KAMPAR -(auranews.co.id)- Pembabatan hutan di Desa Balung, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau kian marak terjadi.

Kepada auranews.co.id, Kepala Desa Balung Muhammad Ujud tak menampik terkait adanya aktivitas pembalakan liar di wilayahnya.

“Memang benar ada pembalakan hutan di Desa Kami. Itu diakui, namun lokasinya sangat jauh dari tempat kami,” ucap Ujud saat dihubungi auranews.co.id, Senin (19/10/2020) siang.

Diakui Ujud, kegiatan pembalakan liar ini memang sudah lama terjadi. Namun pelaku pembalakan ternyata bukan masyarakat Desa Balung.

“Mereka melakukan pembalakan di wilayah Hutan Produksi Terbatas (HPT). Lokasinya sekitar 13 atau 14 kilometer dari Balung, lebih dekat di wilayah Desa Sungai Sarik, Kampar Kiri. mereka tidak bisa lewat balung, maka mereka membawa hasilnya ke wilayah tersebut,” ungkapnya.

Ujud menceritakan, dirinya bersama aparat desa pernah melakukan pengecekan di lokasi untuk mencegah dan menghentikan pembalakan hutan.

“Saat kami sudah berada di lokasi, tidak tampak satupun aktivitas terjadi,” terangnya.

Akibat akses yang terlalu jauh, Ujud mengakui tidak bisa mengontrol aktivitas ilegal logging itu.

“Biasanya satu kali sebulan aparat penegak hukum, seperti dinas kehutanan melakukan razia di lokasi, namun sama sekali tidak ada aktivitas. Mungkin, sudah ada pembocoran informasi,” ujarnya.

Sebagai kepala desa, dirinya tak menutup mata bahwa beberapa mata pencaharian masyarakatnya berasal dari hutan.

“Kita akui, masyarakat Balung hidup dari hasil hutan. Namun ini berbeda, para pelaku usaha ilegal logging ini mengambil kayu yang ukuran besar, kayu bulat. Lalu mereka angkut. Sedangkan masyarakat Balung, biasanya hanya mengambil kayu ukuran potong empat,” pungkasnya.

Untuk itu, atas nama putra daerah, dirinya berharap agar pemerintah bisa menghentikan pembabatan hutan liar yang terjadi di wilayahnya.

“Kami minta pemerintah bisa menindak tegas para pelaku ilegal logging ini. Sebab bisa merusak hutan dan ekosistem lainnya. kami masyarakat resah, jika hutan habis, maka tidak akan ada lagi peninggalan bagi generasi muda Balung,” katanya.

Seperti dikutip dari kitaterkini.com, pihak ilegal logging terlihat begitu tenang dan santai membawa kayu bulat hasil jarahannya di hutan negara tanpa ada rasa takut dan was-was.

Mereka terlihat menggunakan alat berat jenis excavator di lokasi membuat jalan untuk mengambil kayu itu. Menariknya, ketika masyarakat bertanya mereka berdalih membuat jalan untuk kelompok tani.

Yang lebih mencengangkan lagi, diduga ada kutipan fee (uang jalan) kepada para oknum sebesar Rp 130 ribu per mobil.

Hasil kayu bulat di muat ke mobil colt diesel dengan ukuran yang bervariasi mulai ukuran diameter 30 cm sampai ukuran besar dan dibawa keluar, dipertengahan jalan itu ada ampang-ampang (portal-red).(FLS)