Ketua Umum KPOTI Provinsi Riau Letkol Inf Aidil Amin, S.IP, M.I.POL menyerahkan mandat kepada formatur KPOTI Kampar Ir. H Efrizal Syarief dan Kabid Promosi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kampar David Hendra Nasution, SPI yang didampingi Sekretaris Umum KPOTI Provinsi Riau Syukri

BANGKINANG KOTA -(auranews.co.id)- Ketua Umum Komite Permainan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Provinsi Riau, Letkol Inf Aidil Amin, S.IP, M.I.POL mengatakan di zaman modern ini, permainan tradisional sekarang mulai tersisihkan. Ibarat kalau hewan itu bisa dikatakan hampir punah karena sudah mulai tergantikan dengan permainan yang modern terutama dikalangan anak-anak.

Aidil menyampaikan, anak-anak sekarang lebih tertarik dengan permainan modern seperti game online, Playstation, dan gadget yang banyak sekali didalamnya permainan-permainan yang lebih menarik.

Akan tetapi, permainan modern sekarang membuat anak susah sekali untuk bersosialisasi dengan orang lain dan kebanyakan permainan modern sekarang dimainkan dengan individual yang mana membuat anak kurang dalam bersosialisasi dengan temannya dan orang-orang disekitarnya.

Dilandasi dengan kepedulian yang tinggi terhadap kejadian tersebut, untuk itu KPOTI hadir mewadahi seluruh permainan tradisional. Di Indonesia, ada sekitar 2000 an jumlah permainan tradisional. Namun, akibat dampak modernisasi, semua permainan itu seakan tenggelam dengan permainan modern.

“Akibat handphone ini, anak-anak kita terpengaruhi cara berkomunikasinya, etika, dan sosialisasi mereka terhadap lingkungan sekitar,” ucap Aidil Amin dalam acara penyerahan mandat KPOTI Riau kepada pengurus KPOTI Kampar, Bangkinang Kota, Rabu (24/06/2020) siang.

Untuk itu, Pria yang bergelar adat Datuok Palo Panglimo Kampa ini berharap, melalui KPOTI bisa mengingatkan kembali kepada generasi penerus bangsa, terutama anak-anak, bahwa ada permainan tradisional yang mengasyikkan.

Dimana permainan tersebut, bisa mengajarkan untuk bagaimana membentuk pemikiran, kerjasama tim solid, yang menciptakan sosial etika berfikir dalam bersosialisasi.

“Kita punya permainan tradisional, seperti gasing, kelereng, layang-layang, enggrang dan lain-lain. Sekarang, permainan tersebut sudah tidak terlihat lagi. Melalui KPOTI inilah kita berusaha bisa mengenalkan dan mengembangkan potensi permainan ini kepada anak-anak,” pintanya.

Ayah tiga orang anak ini pun berharap, dengan adanya KPOTI bisa mengembalikan kembali permainan rakyat yang memudar dengan menyalurkan bakat, prestasi, bermacam bentuk olahraga profesional, sehingga dapat menaikkan derajat daerah. (FLS)