<>

KAMPAR (auranews.id) – Puncak pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak termasuk di Provinsi Riau untuk periode 2019-2024, semakin mendekat. Pesta Demokrasi tersebut akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018 mendatang.

Sejumlah tahapan dan proses menuju puncak pilkada tersebut sudah dilaksanakan oleh seluruh pasangan calon (paslon) baik calon Gubernur-Wakil Gubernur (Cagub-Wagub). Mulai dari pendaftaran hingga ke tahapan kampanye yang sudah berakhir.

Ada 4 (empat) paslon Gubernur Riau (Gubri) yang sudah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Riau yang akan bertarung sebagai Gubernur-Wagub terpilih yang akan memimpin dan menentukan nasib Riau 5 (lima) tahun kedepan, semua kebijakan pimpinan semua dilakukan dan diberikan kepada masyarakat.

Namun pilihan yang banyak tidak serta merta bakal menambah kepuasan yang akan dinikmati pemilih. Justru bisa paradox yakni kekecewaan. Walau tak ada seorang pun masyarakat yang tidak memiliki peluang untuk memilih. Namun masalahnya semua itu harus dibayar ketika keputusan yang diambil ternyata tidak sesuai harapan.

Yakni, bisa dalam bentuk rasa kesal bahkan hingga stres. Pasalnya Demokrasi yang berkembang tidak diikuti oleh kesiapan rakyat dalam menentukan pilihan terbaiknya. Biang keroknya terlalu banyak pilihan figur yang ditawarkan ternyata sangat tidak dikenal dalam hal latar belakang identitas pribadinya, konsep yang ditawarkan dan performa individunya selama ini. Kalau pun dikenal hanya sebatas tahu orangnya secara fisik.

Namun sampai sekarang para pemilih lama maupun pemilih pemula masih kebingungan menentukan pilihannya terhadap paslon yang akan dicoblos. Termasuk masyarakat Kabupaten Kampar yang sampai saat ini masih terkotak-kotak dan terpecah belah akan pilihannya masing-masing. Baik itu karena dirinya berasal dari partai A, B, C maupun D.

Padahal, salah satu paslon Gubri ada yang berasal dari Kampar, yakni Firdaus. Namun demikian, ketika pemilukada datang banyak orang yang mengaku-ngaku berasal dari Kampar. Pertanyaannya kenapa baru sekarang hal itu baru muncul? Tentu yang bisa menjawab ini paslon tersebut. Mari kita lihat dan kaji mana yang lebih baik orang asli kelahiran Kampar atau orang yang mengaku-ngaku orang dari Kampar?

Banyak faktor yang membuat hal ini terjadi, banyak alasan hingga muncul istilah tersebut mencuat hingga sampai saat ini. Salah satu faktor yang dibutuhkan orang Kampar yakni, love, dream dan pray.

Love (cinta), dream (mimpi) dan pray (doa) gunakan hati nurani dengan jernih, lurus yang penuh kecintaan terhadap Kabupaten Kampar. Idealnya, setiap keputusan pilihan yang diambil tidak bias misalnya hubungan asal kedaerahan, dan pendekatan personal serta asal-asalan.

Tetapi yang lebih penting, yang akan membangun Kampar lebih baik itu, tentunya yang berasal dari Kampar itu sendiri, bukan orang lain. Apakah kita cinta dengan Kampar? Kalau kita cinta, mari tunjukkan kecintaan kita terhadap Kampar jangan menjadi musuh dalam selimut (penghianat). Lupakan partai, lupakan perbedaan mari satukan pilihan, untuk membantu Kampar, yang saat ini telah tertinggal dari Kabupaten lain di Provinsi Riau.

Padahal, Kampar merupakan salah satu Barometer kemajuan daerah di Provinsi Riau. Lihat saja daerah Kabupaten lain, begitu majunya daerah tersebut ketika Riau dipimpin oleh putra daerahnya, seperti Rohil dan Tembilahan. Ini saatnya momen masyarakat Kampar untuk bisa mengambil kesempatan ini, jangan sampai kekecewaan yang lalu terulang kembali, disaat Herman Abdullah bertarung melawan Atuk Annas Ma’mun.

Jangan salahkan Bupati Kampar dengan nasib Kampar yang pembangunannya hingga sekarang masih itu-itu saja. Sebab, Kampar sangat butuh dukungan dana yang besar, kita harus memiliki Landmark Kabupaten sebagai salah satu hal yang bisa dibanggakan. Namun semua itu butuh dukungan dan kerjasama masyarakat untuk terwujud. Tidak bisa berharap kepada orang lain untuk menggantungkan nasib kepada pemimpin yang mengaku Kampar.

Marilah kita bersama-sama mewujudkan ini semua, tanpa kerjasama yang baik, Kampar hanya akan selalu menjadi penonton yang baik bagi kemajuan Kabupaten lain di Riau. Jika putra Kampar kembali kalah dalam pertarungan besok (27 Juni 2018), maka penderitaan dan harapan akan maju daerah lain akan terasa hingga 20 tahun kedepan, semua yang terjadi memiliki efek domino kepemimpinan.

Contohnya, jika paslon A yang memimpin (bukan orang Kampar) kemungkinan besar dirinya akan menjadi pemimpin 2 periode. Dan ketika periodenya telah habis, tentunya dia telah menyiapkan kadernya untuk melanjutkan dinasti kepimpinan yang telah dimulainya. Kita harus lihat ini dengan cerdas, semua ada keterkaitannya.

Jangan biarkan Kampar selalu seperti ini, marilah bersama-sama manfaatkan peluang emas ini. Wujudkan impian dan Doa kita bersama untuk kemajuan Kampar menjadi lebih baik lagi, ketika Riau dipimpin oleh putra asli Kampar. Sejarah mencatat, Riau belum pernah dipimpin orang asli Kampar. Mari kita cetak bersama sejarah yang baru bagi Kampar.

Jangan biarkan Kampar merana dan menjadi penonton. Jika Kampar kalah, butuh waktu yang lama untuk mencuatkan kembali putra-putra terbaik milik Kampar untuk maju sebagai Calon Gubernur di Riau. Apakah kita harus menunggu begitu lama? Apakah kita membiarkan ini semua?

Jangan menunggu, jangan biarkan ini terjadi begitu saja. Kampar kalah, mental putra terbaik Kampar akan dipertanyakan, mari kita lihat putra-putri terbaik Kampar yang akan muncul di pemilihan mendatang. Padahal Kampar banyak memiliki putra-putri terbaik yang saat ini masih berkarir diluar sana, baik itu di militer maupun sebagai pengusaha.

Sebagai masyarakat yang cerdas dalam proses demokrasi, maka setiap orang bakal enggan untuk melepaskan pilihannya. Namun determinasi tinggi bisa membuat kewalahan ketika dihadapkan pada “pertempuran” antara keinginan hal yang terbaik dan keterbatasan suplai pilihan yang bermutu. Hal demikian cenderung bisa menjadikan setiap orang bersikap apatis. Tetaplah optimis, semoga kiat diatas dapat menjadi solusi atas kegalauan dalam memilih nanti.

(Fauzi Lalea)